Merdey,. sebuah potret pelosok papua.

Kamis, 19 Juli 2012

Sm-3t adalah program yang di cetuskan oleh pemerintah untuk mencoba mengatasi kekurangan guru di daerah tertinggal. Program inilah yang akhirnya mengantarkan aku mengenal sebuah daerah di daratan papua. MERDEY. Itu adalah daerah penempatanku.                                       
 

MERDEY,, DARI SEGI TRANSPORTASI     Januari 21, 2012 Kami di dampingi kepala sekolah berangkat dari bintuni menuju merdey. Kami naik pesawat. Yah pesawat. Mungkin kedengaran agak ”keren” gitu menuju daerah pedalaman dengan pesawat. Tapi seperti itulah sejatinya. Karena merdey hanya dapat di capai dengan jalur udara. Siang itu lah pertama kalinya aku dan 2 orang temanku menginjakkan kaki di daerah ini. Merdey, adalah sebuah kecamatan di teluk bintuni, papua barat. Daerah ini adalah salah satu distrik tertua. Tapi karena akses untuk mencapai tempat ini yang masih terbatas lewat udara membuat perkembangannya agak terhambat. Jalan darat yang menghubungkan merdey dan bintuni masih dalam tahap pengerjaan,, tapi dari desas-desus yang beredar sebentar lagi akan selesai. mungkin tinggal  hitungan minggu.   
                                                             Ini adalah pesawat “susi air”. Pesawat yang kerap nongkrong di Bandar udara merdey, yang menghubungkan merdey dengan dunia luar. Rasanya agak sedikit lucu, kalau pada umumnya kita melihat pesawat itu hanya di bandara dan sesekali saja, kami malah melihat pesawat mungil ini hilir mudik di depan rumah kami hampir tiap hari. “susi air” pesawat yang bermuatan 9 orang ini datang setiap selasa, jumat, dan minggu dari kota manokwari dan senin, rabu dari kota bintuni. Belum lagi jika ada pedagang, atau masyarakat yang carter,, dalam sehari bisa dua, tiga kali “susi air” ini datang. “Carter pesawat” !!!, iya,,,!! orang di kampung aku - dan aku percaya di kampung yang lain juga - biasanya kan hanya carter mobil .., di tempat ini pesawat itu kayak mobil saja di carter. Bayangkan saja pedagang kios kecil,, bisa carter tuh pesawat susi. “buat apa ?” Ya buat bawa barang dagangan. Mie instant, telur, soft drink, snack, beras, bawang, dan sembako lainnya. Kira-kira kebayang ga’ berapa harga jual barang yang di angkut pake pesawat,, hehehe.                                                                                                                                                                                               MERDEY, DARI SEGI PENDIDIKAN        bukan transportasi aja yang membuat daerah ini menurutku terlihat berbeda,,,. tapi juga dari sisi lain. Sisi yang membawa aku dan kawanku ada di tempat ini. Pendidikan. Pendidikan di ujung timur Indonesia ini, masih jauh dari memadai, salah satu sebab utamanya adalah kurangnya tenaga pendidik. Contohnya di SMP Merdey, tempat SK penempatan ke dua temanku. Di sekolah tersebut hanya ada satu guru PNS yaitu kepala sekolah, dia di bantu oleh seorang guru honor. Untunglah kedatangan kedua temanku membantu mengurangi beban mengajar berbagai mata pelajaran yang selama ini harus dipikul berdua. Kalau di SMA,, jumlah guru lumayan banyak, apalagi jika di bandingkan dengan siswa yang harus di ajar. Tapi bidang keahlian/ jurusan guru tersebut hampir semuanya homogen. Ekonomi. Sekolah di pedalaman memang sangat membutuhkan guru, tapi bukankah guru yang di berikan tentunya harusnya disesuaikan dengan kebutuhan sekolah ….?. Menurutku, kurangnya tenaga pendidik di papua di sebabkan oleh ketakutan para guru untuk mengenal lebih dekat sebuah tempat yang bernama papua. Bagaimana tidak, apa yang mereka ketahui hanya sekedar apa yang mereka saksikan dari berita di layar kaca, bahwa Papua adalah sebuah daerah yang sangat dekat dengan kata konflik, panah, dan perang antar suku. Aku ingin sekali memahamkan ini kepada guru-guru se-Indonesia “ Sungguh,, papua tidak lah seperti apa yang kalian liat di TV..!!! tempat ini aman, orang-orangnya ramah. Masyarakat merdey adalah orang yang selalu mengucapkan selamat pagi, selamat sore, dan selamat malam setiap kali kalian berpapasan dengan mereka di jalan. Sudah hampir setengah tahun aku di merdey, tak pernah ada satu pun dari mereka yang pernah kuliat membawa busur dan panah. Mereka memakai pakaian, sama seperti kita. Mereka berbahasa Indonesia, sama seperti kita. Mereka juga adalah orang-orang yang ingin maju.., tak beda dengan kita. Tapi,, Mereka butuh kita,-para guru- untuk memajukan mereka.” 
                                                                                                                                                       foto sekolah                                         MERDEY, KEHIDUPAN KAMI DAN MASYARAKATNYA                                                                  All beginning is difficult. Pada awalnya menjalani kehidupan ala merdey sungguh terasa sulit bagi kami. Bingung mulai dari cara menyalakan kayu bakar, nasi yang tak matang-matang, sampai nanya kanan-kiri efek minum air hujan. Tapi waktu berlalu dan menguapkan sulit itu. Kami beradaptasi, kami belajar menikmati hidup. Sebuah hidup yang lebih sederhana. Sumur, air hujan, dan kabut pagi. Makanan pokok pribumi adalah kasbi alias ubi kayu. Sumpah,, ubi kayu merdey,, beda. Enak. Tapi bagi kami dan para pendatang yang lain, nasi tetap sebagai sumber karbohidrat utama. Masyarakat merdey hidup dari berkebun. Menanam kasbi dan sayur mayur. Pada Siang hari para ibu berangkat ke kebun dan pulang menjelang senja. Mereka terkadang menjual sebahagian hasil kebunnya pada pagi hari di pasar. sebuah tempat beratap seng berukuran kurang lebih 8 X 4 meter. Masyarakat pendatang di tempat ini lumayan banyak, dengan profesi yang beragam tentunya. Mulai dari guru, tenaga kesehatan, kepolisian, pedagang, kontraktor, tukang kayu, sampai pegawai bandara. Mereka bhineka tunggal ika. Makassar, Buton, Jawa, Toraja, dll.                                                                                                                                                                        mushollah   merdey                                                                                                                                                                                           MERDEY DAN KETERSEDIAAN : AIR, LISTRIK, DAN SINYAL.                                                    Air bukanlah hal yang sulit di tempat ini. Sumur ada di mana-mana. Airnya jernih. Jaraknya pun dekat. Selain itu, hujan datang hampir tiap hari. Di papua tak ada musim, terkadang panas terik,, dan tiba-tiba saja,, langit berubah gelap, hujan lebat. Drum penampungan kami pun penuh meluap-luap.                                               Listrik memang belum menjangkau merdey, tapi kami masih bisa melihat terangnya nyala lampu neon, masih bisa melihat aksi girlband and boyband yang lagi menjamur, kasus korupsi terbaru, sampai pernikahan seleb anang-ashanti. Genset. Mungkin bagi kalian ini masuk kategori barang antik, seperti OHP yang telah tergantikan LCD. Bagi kami, Genset adalah sebuah pintu. Pintu yang membuat malam lebih terang dari sekedar cahaya bulan, pintu untuk melihat dunia dari sebuah layar kaca, dan tentunya memfungsikan laptop atau pemutar musik di hp kami.                                                                                                                    Sinyal, itulah yang merdey masih tak punya. Tapi tak sepenuhnya juga dapat di katakan kekurangan. Karena ketidakadaan di satu sisi justru membawa sisi positif di sisi sebaliknya. Tak dapat berbicara dengan orang-orang dari tempat yang jauh, membuat kami lebih intens berinteraksi dengan sesama. Menguatkan fungsi manusia sebagai makhluk sosial. Tak ada sinyal tak berarti kami terisolasi. Ada surat. Ada SSB. Dan tentunya ada HP satelit – hp model jadul tapi paling sadis nangkap sinyal. Hp ini dapat menangkap sinyal dengan baik bahkan ketika kamu ada di dalam hutan merdey.     
                                                                              
   Papua di mataku,, dulu dan sekarang,,,                                                                                                 Aku teringat diriku di suatu siang setelah pulang dari pra-kondisi. temanku memberitahuku, apakah aku tetap kukuh berangkat ke papua. Dia baru saja menonton tv dan melihat kalau papua masih rusuh. polisi yang berjaga-jaga, panah, dan tembakan. Aku terdiam melihat kantong belanjaanku yang berisi sabun, sampho, susu, makanan ringan dan berjubel perlengkapan yang aku takut tak aku temukan di tempat tinggalku nanti. Ya.. tuhan apakah keputusanku untuk tetap ikut program ini adalah hal yang tepat. Saat mengingat hari itu,, aku sadar aku telah berpikir terlalu jauh,,, terlalu takut,, akan sesuatu yang sebenarnya tak seburuk itu. apa yang di katakan oleh salah satu pembicara saat kami prakondisi memang patut untuk di dengarkan. janganlah menafsir terlalu tertinggi atau terlalu rendah akan sesuatu. aku salah karena hari itu aku telah underestimate akan papua. saking takutnya aku belanja perlengkapanku sampai hampir setahun, segala jenis obat aku bawa, sampai pusing nanya kanan kiri vaksin malaria, obat malaria. kalau ingat diriku dan kepanikanku saat itu,, aku benar-benar berlebihan. Papua adalah tempat yang aman. papua daerah yang luas. yang telihat di tv hanyalah daerah yang konflik saja. dan tak seharusnya kita men-general-kan sesuatu. bahkan banyak dari temanku yang ikut program sm-3t berniat kembali ke tanah papua setelah menyelesaikan kuliah ppg. itu adalah bukti nyata bagaimana kehidupan di tempat ini sangatlah menyenangkan. membuat yang datang, ingin kembali lagi bahkan menetap. 


SM-3T,, daerah penugasan teluk bintuni

1 komentar:

dwi kurniawan mengatakan...

bagus sekali.. kpn bu guru ke merdey lagi?